Yamato, Akhir dari Sebuah Legenda Kapal Jepang

Yamato adalah kapal tempur
Angkatan Laut Kekaisaran Jepang dalam Perang Dunia II, sekaligus kapal utama
dalam Armada Gabungan Jepang. Nama kapal ini diambil dari nama Provinsi Yamato.
Sebagai kapal pertama dalam kelasnya, Yamato merupakan kapal tempur terbesar
dan terberat yang pernah dibangun. Berat kapal dengan muatan penuh 72.800 ton,
dan dipersenjatai dengan sembilam meriam utama kaliber 46 cm (18,1 inci).
Kapal ini dibangun dari 1939 hingga 1940 di Arsenal Angkatan
Laut Kure, Prefektur Hiroshima, dan secara resmi mulai ditugaskan pada akhir
1941. Sepanjang tahun 1941, Yamato dijadikan kapal pemimpin yang dinaiki
Laksamana Isoroku Yamamoto. Kapal ini pertama kali berlayar sebagai anggota
Armada Gabungan selama Pertempuran Midway Juni 1942. Selama tahun 1943. Yamato
hanya pernah sekali menembakkan meriam utama ke sasaran musuh. Kesempatan itu
diberikan kepadanya pada bulan Oktober 1944, namun Yamato segera diperintahkan
pulang setelah serangan dari kapal perusak dan pesawat-pesawat tempur dari
gugus tugas kapal induk pengawal "Taffy" berhasil menenggelamkan tiga
kapal penjelajah berat dalam Pertempuran Lepas Pantai Samar.
Persenjataan kapal perang Yamato
Misi Yamato
Pada 25 Februari, Yamato dan Musashi dipindahkan dari Divisi Kapal Tempur I ke Armada Kedua. Yamato kembali masuk dok untuk peningkatan kemampuan radar dan sistem antipesawat sepanjang bulan Maret 1944. Pada awal Juni 1944, Yamato dan Musashi mengangkut pasukan ke Biak dengan misi tambahan memperkuat pertahanan angkatan laut dan garnisun di Pulau Biak. Ketika markas besar Ozawa mendengar serangan kapal induk Amerika Serikat ke Kepulauan Mariana, misi dibatalkan.Dari 19 Juni hingga 23 Juni 1944, Yamato mengawal Armada Mobil Ozawa selama Pertempuran Laut Filipina yang dijuluki pilot-pilot Amerika Serikat sebagai "Pesta Menembak Ayam Kalkun Mariana Raya". Kerugian pihak Jepang melebihi 400 pesawat tempur, tiga kapal induk tenggelam akibat serangan kapal selam dan serangan udara.Setelah pertempuran selesai, Yamato dan Armada Mobil ditarik mundur ke Brunei untuk pengisian bahan bakar dan dipersenjatai kembali.
Dari 22 Oktober hingga 25 Oktober 1944, Yamato bergabung dengan armada Kekuatan Tengah di bawah komando Takeo Kurita dalam Pertempuran Teluk Leyte yang merupakan pertempuran laut terbesar dalam sejarah. Ketika sedang berlayar, armada Kurita diserang kapal selam USS Darter dan USS Dace di Selat Palawan. Atago yang dijadikan kapal bendera oleh Kurita dan Maya ditenggelamkan dengan tembakan torpedo, sementara Takao rusak. Keadaan ini memaksa Kurita untuk memakai Yamato sebagai kapal bendera. Sepanjang Pertempuran Laut Sibuyan, Yamato dijatuhi tiga bom penembus perisai dari pesawat pengebom yang berpangkalan di atas kapal induk USS Essex, sementara Musashi tenggelam setelah dihantam 17 torpedo dan 19 bom. Pada malam 24 Oktober, Kekuatan Tengah Kurita melayari Selat San Bernardino, dan menyerang sekelompok kecil kapal induk pengawal dan kapal-kapal penjelajah segera setelah pagi tiba. Tembakan Yamato berhasil mengenai sebuah kapal induk pengawal, sebuah kapal perusak, dan sebuah kapal perusak pengawal. Setelah memastikan tembakan meriam utama tepat mengenai sasarannya di USS Gambier Bay.
Setelah pertempuran di lepas pantai Samar, Yamato dan sisa-sisa Angkatan A kembali ke Brunei. Pada 15 November 1944. Pada 21 November, ketika sedang melewati Laut Cina Timur dalam perjalanan menuju Pangkalan Angkatan Laut Kure, Yamato dan kapal-kapal dalam gugur tempurnya diserang kapal selam USS Sealion. Kapal tempur Kongo dan sejumlah kapal perusak tenggelam.Setibanya di Kure, Yamato sehera masuk dok kering untuk perbaikan dan peningkatan kemampuan sistem senjata antipesawat. Senjata anti pesawat yang lama diganti sistem baru.
Karamnya sang raksaksa
Apa itu operasi Ten Go?
Operasi Ten-Go yang dimulai 6 April 1945 adalah misi bunuh diri di lepas pantai
Okinawa yang dilakukan secara sengaja oleh Yamato dan sembilan kapal
pengawalnya. Ketika berangkat dari Kure, Yamato
direncakan untuk dikandaskan di pantai Okinawa,
dan bertugas sebagai stasiun tempur yang tidak tertenggelamkan. Meriam-meriam
berat kaliber 18,1 inci menurut rencana akan dipakai untuk melakukan
bombardemen ke pasukan Amerika Serikat yang berada di Okinawa.
Yamato hanya membawa bahan bakar cukup untuk sampai ke Okinawa.
Persediaan bahan bakar yang ada memang sudah tidak cukup untuk mengantarkan
Yamato ke Okinawa dan pulang kembali ke Kure.
Ketika berlayar di Selat Bungo, Yamato dan kapal-kapal pengawalnya dipergoki
oleh kapal selam Amerika Serikat USS Threadfin dan USS Hackleback. Keduanya
melapor ke Gugus Tugas 58 tentang posisi Yamato.Pada pukul 12.32 tanggal 7 April 1945, Yamato menyambut serangan gelombang pertama yang terdiri dari 280 pesawat dari Gugur Tugas 58, terkena tiga kali (dua bom, satu torpedo). Pada pukul 14.00, dua kapal pengawal Yamato tenggelam.Tidak lama kemudian, Yamato dan kapal-kapal pengawal yang tersisa menjadi sasaran serangan gelombang kedua yang terdiri dari 100 pesawat. Pada pukul 14.23, setelah dihantam 10 torpedo dan kejatuhan 7 bom, ruang amunisi Yamato meledak. Asap ledakan membubung setinggi 6,4 km dan dapat dilihat dari Kyushu yang berjarak 160 km dari lokasi tenggelamnya Yamato.Sejumlah 2.498 awak dari total 2.700 awak Yamato dinyatakan hilang, termasuk komandan armada Laksamana Madya Seiichi Ito.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar